Setiba di Cayanne mbak Sampeh (begitu aku memanggil cucu menantu dari Pak Misran) menghubungiku, mengabarkan bahwa rombongan telah tiba dengan selamat sampai rumah tempat tinggalnya.
Selang beberapa bulan saya juga terima email dari seseorang yang saya tidak mengenalnya bernama Saima Sabenda. Dia adalah pegawai kedutaan di Paris yang menjadi teman mbak Sampeh, dia juga ikut dalam rombongan ke Indonesia waktu itu. Mbak Sampeh mengabarkan bahwa keluarga bu Painem Cayanne sehat dan waras, yang ditulis dalam bahasa jawa ejaan lama. Sayapun juga agak kesulitan dalam membacanya karena ejaan yang sekarang sudah ejaan yang disempurnakan atau disingkat EYD.
Bahasa dan tulisan yang dipakai oleh orang orang jawa yang tinggal disana adalah yang diturunkan oleh orang tua mereka pada saat meninggalkan jawa pada era sebelum merdeka. Sekarang mereka adalah keturunan generasi tiga dan empat, wajar saja jika berbeda bahasa yang sering saya dengar sekarang, sementara bahasa Jawa yang sekarang Induknya di Indonesia sudah banyak perubahan, banyak serapan dari bahasa luar. Bahkan ada kata kata yang sudah tidak saya dengar lagi sekarang dalam bahasa jawa misalnya kata senthong (kamar), inter di Jawa pinter/iso bahasa Indonesianya bisa. Dan merekapun juga susah dalam menulis antara yang dia ucapkan. Bahasa sehari hari juga campur antara bahasa belanda, inggris, perancis. Sering kali dalam menulis bahasa jawa dengan bahasa inggris.
Kembali ke komunikasi dengan keluarga pak Misran. Anak mbak sampeh atau cucu buyut pak Misran yang sedang kuliah di Paris juga pernah mengirim email tanpa kata hanya 4 foto orang tua yang saya tidak mengenalnya, yang saya tau bu painem dan suaminya, serta mbak Sampeh dan mas Roger. Akhirnya saya telepon balik menanyakan kabar dan foto yang telah dikirim, ternyata foto foto tadi adalah Pak Misran, Bu Ngatinem dan Pak Rebo, mereka yang sepantaran dengan mertua saya, cerita sebelumnya sudah dibahas. Ketiganya ternyata sudah meninggal dan baru tau karena pas kunjungan ke tiganya ke Indonesia keluarga kami tidak sempat menanyakannya.
Setahun yang lalu, saya menerima pesan dari whatshapp ternyata dari Mbak Sampeh. Alhamdulillah akhirnya komunikasi kamipun lancar. Dia bilang" akoe inter nganggo whatshapp" (saya bisa menggunakan whatshapp). Semenjak itu kamipun saling bercerita banyak tentang kondisi di Jawa maupun di Cayanne melalui vidiocall imo maupun vidiocall whatshapp.
#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikdanBahagia
#15Haribercerita
#Harike-10
Tidak ada komentar:
Posting Komentar