Translate

Jumat, 09 Februari 2018

Raskin Salah Sasaran

 



Menurut sumber www.tnp2k.go.id Raskin merupakan subsidi pangan dalam bentuk beras yang diperuntukkan bagi rumahtangga berpenghasilan rendah sebagai upaya dari pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan dan memberikan perlindungan sosial pada rumahtangga sasaran.Keberhasilan program raskin diukur berdasarkan tingkat pencapaian indikator 6T. yaitu tepat sasaran, tepat jumlah, tepat harga, tepat waktu, tepat kualitas dan tepat administrasi. Program ini bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran rumahtangga sasaran (RTS) melalui pemenuhan sebagian kebutuhan pangan pokok dalam bentuk beras dan mencegah penurunan konsumsi energi dan protein. Selain itu raskin bertujuan untuk meningkatkan/membuka akses pangan keluarga melalui penjualan beras kepada keluarga penerima manfaat dengan jumlah yang telah ditentukan

Dari uraian diatas jelas sekali maksud dan tujuan pemerintah dalam menyalurkan Raskin. Raskin  bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat dikalangan bawah, sehingga pemerintah bisa membantu meringankan beban dalam memenuhi kebutuhan pangan yaitu beras, bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah. Harapan kita sebagai masyarakat adalah pembagian tersebut tepat sasaran sesuai untuk masyarakat yang membutuhkan, dan sesuai dengan jumlah yang ditargetkan pemerintah, sehingga tujuan pemerintah dapat tercapai. Namun masih banyak juga masyarakat yang beranggapan bahwa bantuan itu juga harus merata tanpa memandang kemampuan. Banyak yang merasa miskin agar memperoleh bantuan dari pemerintah. Ini juga saya alami pada saat melakukan survei dilapangan responden kerap mengeluh " apa untungnya bagi saya", apakah saya akan memperoleh bantuan",  dan lain sebagainya. Kadang juga merendahkan omset dan aset yang dimiliki agar memperoleh bantuan.

Kembali ke masalah raskin, tulisan ini saya ulas karena saya merasa ada yang tidak pas pada penyaluran raskin kepada masyarakat, semoga ini hanya terjadi  dikampung saya tidak terjadi di daerah lain. Kemarin sore 7 Februari 2018, sepulang dari kantor, saya melihat kantong plastik warna merah di meja yang saya buka ternyata isinya beras yang sudah berwarna kuning seberat 2.5kg (lihat gambar diatas). Saya tanya anak saya "kok ada beras dari mana? kata anak saya "beras dari budhe". Saya pun menghubungi budhe lewat WA untuk mengucapkan terimakasih atas pemberian berasnya saya pikir hasil panen (positif thingkin g). Dan ternyata budhe mengatakan bahwa berasnya bukan dari dia tetapi beras miskin pembagian. Gubrak saya Pegawai Negeri BPS diberi raskin, apakah saya miskin? Sedih campur marah hati saya, coba bayangkan, kegiatan PPLS  saya juga terlibat. 

Dalam undangan yang dikirim jatah beras miskin 10 kg dengan harga 0 rupiah untuk satu rumahtangga berpenghasilan rendah tetapi dibagi rata untuk 4 ruta yang tidak layak untuk menerima. Saya prihatin sekali. Kasian mereka yang benar benar membutuhkan apalagi harga beras mahal. Bukan maksud untuk menyombongkan diri tidak mau menerima rejeki, tetapi karena raskin bukan hak saya, jika saya terima saya berdosa memakan hak orang lain yang memang kekurangan dan melenceng dari tujuan pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan.

Pada saat awal program raskin dibagikan didalam undangan pembagian ada nama saya dan 3 nama lainnya (1 undangan untuk 4 orang),  tetapi saya yakin ini bukan nama asli penerima tetapi karena dibagi rata, saya heran mengapa bukan nama kepala rumah tangga yang ditulis. waktu itu langsung saya bilang untuk mencoreknya. Saya berfikir juga sudah dicorek dari undangan untuk pengambilan beras miskin untuk berikutnya.Ternyata nama saya masih muncul hingga kemarin, pasangan pengambilan beras sebelumnya tidak diserahkan ke saya karena mereka tau saya tidak mau. Dalam undangan yang kemarin pasangannya berbeda dari biasanya sehingga diserahkan beras miskin itu ke saya.

Dari aspek lain perangkat setempat tidak mau resiko dikritik masyarakat dalam pembagian bantuan yang dianggap tidak adil, pilih pilih, maka lebih aman mereka mengambil kebijakan yang tidak tepat yaitu bagi rata baik yang mampu maupun tidak mampu.

#PerempuanBPSMenulis
#Menulisasyikdanbahagia
#15HariBercerita
#Harike-5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar